Senin, 18 Agustus 2014

Kehidupan berjalan seperti layaknya air yang mengalir, tidak pernah tau dimana akan berhenti dan siapa saja yang akan basah dengan air itu. Tapi selayaknya air kehidupan juga bisa dibawa kemana harus berjalan dan berlabuh. Ketika seseorang harus basah terkenanya tidak dapat dipungkiri jika dingin akan menyelimuti pula tubuhnya.
Aku seorang yang selalu menunggu keajaiban dari Tuhan, tanpa tahu kapan itu akan terjadi. Tapi aku yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan seorang hambanya selalu tersakiti selamaya.
Kini aku memiliki kamu dari 5 tahun yang lalu, walau hanya beberapa waktu saja aku memiliki hatimu seutuhnya tapi setidaknya aku tetap bersyukur mengenal kamu, menjadi bagian dari kehidupanmu dan aku pun bersyukur aku sempat menangis dan jatuh karena kamu. Dengan begini aku tau bahwa aku bukan hanya terobsesi saja dengan adanya kamu, tapi dengan ini aku jauh lebih tau bahwa aku benar-benar mencitai kamu.
Dear, Calon Suamiku,
Seperti apapun hari ini, aku telah memilih kamu. Menjadi sumpah ku 5 tahun silam bahwa aku akan memperjuangkan kamu sampai hambusan nafas terakhirku.
Dear, Calon Suamiku,
Maafkan aku jika apa yang ada di dalam diriku tidak sesuai dengan harapanmu, aku hanya seorang wanita yang mungkin terpandang sebelah mata di matamu, aku bukan wanita yang cantik jauh dari itu semua.
Aku hanya seorang yang selalu berdo'a dan berharap kamu cintai, berharap kesetiaan kamu selamanya seperti dulu.
Dear, Calon Suamiku,
Terkadang muncul beberapa saat ketika aku harus merasa malu bertemu dengan teman-teman kamu, merasa takut kamu malu dengan adanya aku yang tidak sesempurna orang-orang disekeliling mu. Tapi tidak bisa aku pungkiri jika akupun sangat takut kehilangan kamu, terkadang untuk berkata tidak lidahku pun terasa kaku karena aku merasa takut jika menimbulkan amarahmu, merasa takut menyakitimu.
Aku hanya seorang yang ingin benar-benar kamu cintai karena aku tidak sesempurna wanita pada ummnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar